Selasa, 20 Maret 2012

"Inilah Bahayanya Penyakit Munafik"

"Mereka yang munafiq itu adalah orang-orang yang memperlihatkan Islam lahiriyah. Padahal mereka menyembunyikan kekafiran dalam hatinya."








    Ketahuilah, sesungguhnya tubuh ini sering sakit da penyakitnya, sebenarnya mudah dan gambang disembuhkan , karena manusia telah membuka berbagai rumah sakit untuknya dan juga berbagai poliklinik serta berbagai apotik, dan para doker dan perawat serta para apoteker siap untuk mengobatinya.
Tetapi, bila kalbu (hati) manusia dihinggapi oleh penyakit, maka penyakit yangdideritanya sangat berbahaya. Karena dampaknya akan mengahancurkan da membinasakan pasiennya, bahkan dapat menjerumuskannya ke dalam neraka yang besar nyala apinya.

Para tabib hati adalah para Rasul alahaimus sholaatu was sallam, para ulama yang mukhlis, dan para da'i yang waspada.

Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah membagi penyakit dalam dua bagian. Kedua bagian ini telah disebutkan dalam al-Qur'anul karim. Ahlul ilmi telah membicaraka masalah penyakit hati ini dan pembahasan yang paling baik dan paling utama dalam membahas masalah ini yang digambarkan oleh Ibnu Qayyim, dalam "Ighootsatul Lahfaan min Mashoo-idisy Syaithoon -Membebaskan yang terjerat oleh jebakan setan".

Ada sebuah penyakit yang tiada obatnya, kecuali yang bersangkutan pasrah kepada Allah dan masuk Islam. Jika tidak, neraka jahanamlah balasannya sebagai pembalasan yang setimpal. Tiada kebebasan dan tiada syafa'at baginya, baik dari para nabi, maupun para rasul, melainkan balasannya adalah kekal di dalam neraka. Jenis penyakit inilah yang disebut dengan penyakit munafiq.

"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya". (QS : al-Baqarah : 10).
Mereka yang munafiq itu adalah orang-orang yang memperlihatkan Islam lahiriyah. Padahal mereka menyembunyikan kekafiran dalam hatinya.Mereka terdapat di setiap kampung, kota, agama,masa, dan zaman dan tempat. Semoga Allah menyelamatkan diri kita dari penyakit ini.

Penyakit munafiq ini bila telah menguasai kalbu seseorang memunyai pertanda-pertanda sebagai berikut :
Pertama, yang bersangkutan enggan shalat berjama'ah. Jika ia shalat, ia mengerjakannya karena riya dan pamer. Allah Ta'ala berfirman :

"Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) dihadapan manusia". (QS : An-Nisa' : 142)
Kedua, mereka jarang mengingata Allah.Bahkann dia lebih banyak menigngat syahwat, makanan, minuman, teman-teman, orang-orang yang dikasihinya, dan tempat-tempat kenikmatan syahwat, tempat tinggal yang indahnya daripada mengingat Allah. Allah telah berfirman :

"Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah, kecuali sedikit sekali". (QS : An-Nisaa : 142)
Ketiga, mereka mengucapkan dengan mulutnya apa yang tidak ada didalam hatinya. Oleh karena itu, mereka suka memuji Islam, orang-orang shalih, al-Qur'an, dan dzikir. Padahal, Allah mengetahui kebencian yang terpendam dalam kalbu mereka terhadap Islam, agama, masjid, dan orang-orang yang berdzikir. Allah Ta'ala berfirman :

"Dan diantara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu dan dipersaksikannya kepada Alalh (atas kebenaran) isi hatinya. Padahal, ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukaikebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya : 'Bertaqwalah kepada Allah', bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) nereka jahanam dan sungguh nereka jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya". (QS : al-Baqarah : 204-206).

Penyakit yang membahayakan ini disebut oleh Allah Ta'ala sebagai penyakit yang sangat parah, yaitu penyakit munafiq.
Ibnu Tamiyah mengatakan kepada salah seorang ahli ilmu manthiq dari kalangan orang-orang munafiq : "Bertaubatlah kepada Allah. Perbanyaklah menyebut nama Allah". Ahli munafiq menjawab : "Aku tidak dapat". Ibnu Tamiyah bertanya : "Mengapa engkau tidak dapat melakukannya?". Ia menjawab : "Aku measaka hatiku tertutup oleh kgelapan yang bertumpang tindih satu sama lainnya".

Adakalnya penyakit ini bila menjangkiti kalbu sebagian orang, akan menjai parahlah ia sehingga yang bersangkutan membenci segala sesutu yang ada kaitannya dengna Islam. Bahkan ada sebagaian orang dar mereka yang berani mengejek al-Qur'an. Manakala ditemui oleh seorang ulama, ia berkata kepadanya : "Ceritakanlah kepadaku sebagian dari kata-kata yang bijak". Si ulama pun mengingatkannyadengan beberapa buah ayat dari al-Qur'an, lalu ia menjawab : "Ini dari al-Baqarah dan al-Imranmu, tetapi berikanlah kepadaku sebagian dari filsafat Socrates da Abicrates". Penyakit in yang bersangkutan sejak mula berpaling dari al-Qur'an.

Memang dikalangan para pemuda sama sekarang terdapat orang yang tidak penah membaca al-Qur'an dan Hadist serta tidak pernah menghadiri majelis agama (Islam) atau pengajian, tetapi dia mempunyai buku-buku referensi musuh-musuh manusia, seperti buku yang berjudul : "Al Insan Laa Yakuunmu Wahdahu" (Manusia tidak dapat berdiri sendiri). Kaifa Tunhi Yaumaka dan Kaifa Tusaithiru 'alaa' Aqlika" (Bagaimanacara anda menguasa akal anda), dan sebagainya.

Orang yang bersangkutan berada dalam kekuasaan halusinasinya dan kemauan hawa nafsunya. Allah Ta'ala berfirman :
"Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghiduan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Bertakalah ia 'Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat. 'Allah berfirman : 'Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat kami, maka kamu melupakannya dan begitu pula pada hari inipun kamu dilupakan". (QS : Thahaa : 124-126)
Allah Ta'ala berfirman pula :
"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafiq) ada yang berkata 'Siapa diantara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini? Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira". (QS : at-Taubah : 124)

Bergembirlah bagi orang-orang yang mencintai al-Qur'an dan As-Sunnahnya. Karena tidaklah sekali manusia makin lama duduk, mendengar, dan membacanya,melainkan makin bertambah pula keimannya. Tidak lah pula sekali-kali orang yang berpaling makin bertambah parah, melainkan bertambah kekafiran, kemunafiqan, dan laknatnya. Allah Ta'ala berfirman :
"Adapun orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambahlah kekafiran mereka disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir". (QS : at-Taubah : 125)

Salah seorang ahli ilmu manthiq bernama Ibnu Rawandy bersua dengan salah seorang pedagang dari kalangan kaum muslim dengan membawa ternak sapi, ternak kambing dan ternak unta miliknya. Dia seorang hamba sahaya dan memang kita semua adalah hamba Allah.

Ibnur Rawandiy pun menengadahkan pandangannya ke langit ser aya berkata : "Aku adalah Ibnur Rawandiy yang cerdas, bahkan termasuk yang tercerdas di dunia, sedang budak ini Engkau berikan kepadanya kuda, dan sapi. Dimanakah letak keadilan-Mu? Selanjutnya, Ibnur Rawandy melemparkan roti ke sungai seraya berkata : "Dimanakah letak keadilan-Mu?". Kemudian Ibnur Rawandiy memberikan komentarnya, "Semoga Allah memberkati kebodohan yang disertai dengan ketaqwaan dan semoga Allah melaknat kecerdasan yan diberangi dengan kefasiqan".

Bagaimana kalbu ini menjadi menjerit dan marah seperti itu?Sehingga, yang bersangakutan marah-marah dan menjerit seperti seura keledai?

Allah Ta'ala berfirman :
"Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, etapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.Mereka itulah orang-orang yang lalai". (QS : al-A'raf : 179).
Penyakit ini menyebabkan penderitanya menjadi kafir, zindiq atau manufiq, dan mereka akan ditenggelamkan ke dalam neraka jahanam. Wallahu'alam.

"10 Hal Yang Bisa Menjadi Penghapus Dosa"


     "Barangsiapa yang terlewatkan dari sepuluh macam penghapus dosa ini, maka sesungguhnya dia pasti masuk neraka dengan sebenarnya, karena sesungguhnya dia telah lari dari Allah seperti unta yang lari dari pemilikinya dan dia telah pergi dari Allah, sebagaimana seorang budak pembangkang yang pergi dari tuannya."


    Diantara jalan bagi penghapus dosa bagi seorang muslim dan mukmin, diantaranya, pertama, membaca istighfar (memohon ampun), kedua, taubat, ketiga, mengerjakan amal-amal kebaikan yang menghapuskan dosa, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya :
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itlah peringatan bagi orang-orang yang ingat". (QS : Hud :114)

Keempat, berbagai musibah yang menimpa diri manusia yang lemah karena dosa yang telah dilakukannya. Yang paling berat adalah musibah yang mengantarkannya pada kematian dan yang paling ringan adalah duri yang menusuk dirinya serta teriknya sinar matahari yang menyengat.

kelima, doa orang-orang mukmin shalih yang diperuntukkan bagi yang bersangkutan. Keenam, kerasnya rasa sakit saat meregang nyawa dan kesulitan yang dialami oleh orang yang bersangkutan saat menghadapi kematiannya yang kepedihan dan rasa sakitnya tak terperikan. Semoga Allah meringankan penderitaannya bagi diri kami dan juga bari diri anda pada saat yang kritis itu. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ketujuh, Adzab khubur. Tahukah anda apakah adzab khubur itu? Adzab khubur pasti akan mencabut kalbu orang-orang yang mengesakan dan pasti akan terasa hampir melayangkannya, jika mereka mempunyai sedikit keyakinan tentangnya.

Kedelapan, ketakutan yang sangat pada hari menghadap kepada Allah Ta'ala pada hari Kiamat nanti. Itulah saat kita keluar dari khuburan kita dalam keadaan menangis karena berdosa seraya memilkul semua kesalahan dan kedurahakaan yang telah kita lakukan, lalu kita datang untuk dihadapkan kepada peradilan Allah Ta'ala.

Kesembilan, syafa'at Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, syafaat para wali, dan syafaat orang-orang yang shalih. Sesungguhnya hal ini telah dinyatakan kebenarannya oleh kalangan ulama ahli sunnah.

Sepuluh, rahmat dari Yang Maha Penyayang diantara para penyayang. Saat semua rahmat telah habis, semua pintu telah tertutup, dan habislah semua kemampuan para hamba. Saat itulah datang pertolongan dari Allah Yang Maha Esa lagi Maha Membalas dan datanglah rahmah dari Allah Ta'ala, lalu Dia merahmati, menolong, dan menyayangi. Maka rahmat-Nyaadalah akhir dari segalanya,yaitu rahmat dari Yang Maha Penyayang diantara para penyayang.

Selanjutnya Ibn Taimiyah mengatakan, bahwa barangsiapa yang terlewatkan dari sepuluh macam penghapus dosa ini, maka sesungguhnya dia pasti masuk neraka dengan sebenarnya, karena sesungguhnya dia telah lari dari Allah seperti unta yang lari dari pemilikinya dan dia telah pergi dari Allah, sebagaimana seorang budak pembangkang yang pergi dari tuannya.

"Bersabarlah Kawan Atas Beban Dakwah Ini"


 
"Tidak ada jalan lain bagi para da’i kecuali harus berpegang teguh dengan keyakinan serta bersenjatakan kesabaran dalam menghadapi kekuatan dan kekuasaan tiran."

    



     Menurut Al-Qur’an sabar yang keempat adalah sabar atas beban dakwah kepada Allah. Sebab para da’i menuntut menusia agar membebaskan diri dari hawa nafsu, lamunan-lamunan kosong, adat kebiasaan mereka, memberontak kepada syahwat, sembahan nenek moyang, tradisi kaum, da superioritas kelas atau keturunan, memberikan sebagian yang mereka miliki kepada saudaranya, dan mematuhi ketentuan-ketentuan Allah dalam bentuk perintah dan larangan, halal dan haram.

Sementara kebanyakan manusia menentang dakwah yang dibawakan oleh Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, seperti menghadapi perlawanan yang menggunakan segala bentuk senjata, harta, kekuasaan, kekuatan, wibawa, pengaruh dan sebagainya.

Tidak ada jalan lain bagi para da’i kecuali harus berpegang teguh dengan keyakinan serta bersenjatakan kesabaran dalam menghadapi kekuatan dan kekuasaan tiran.

Sabar di sini seperti dikatakan Imam Ali ra, merupakan pedang yang tak pernah tumpul dan cahaya yang tak bisa redup. Hal ini sesuai dengan yang disebutkan hadist shahih,

“Sabar adalah cahaya”.

Inilah rahasia dikaitkannya antara tawashibish-shabri dan tawashi bil haqqi dalam surat al-Ashr,

وَالْعَصْرِ
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-Ashr [103] : 1-3)

Sebab, kebenaran tidak dapat dipertahankan kecuali dengan sabar. Juga merupakan rahasia dikaitkannya kesabaran dengan amar ma’ruf dan nahi munkar di dalam wasiat Lukman Hakim kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah manusia dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukman [31] : 17)

Seolah-olah dia berpesan, selama engkau menyeru kepada manusia kepada kebaikan, memerintah mereka melakukan yang ma’ruf dan mencegah mereka dari yang mungkar, maka persiapkanlah dirimu yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.

Beban-beban dakwah kepada Allah wujudnya beraneka ragam, di antaranya yang disebutkan al-Qur’an sebagai berikut,

Pertama, dalam bentuk keberpalingan manusia dari juru dakwah. Sesuatu yang dirasa paling menyesakkan dada seorang juru dakwah ialah penolakan manusia terhadap dakwah yang telah diserukannya.
Hal ini dapat kita lihat dalam munajat Nabi Nu as kepada Allah, ketika mengadukan ikhwal kaumnya yang menolak dakwahnya.

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا
فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا
وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

“Berkata Nuh, Rabbi, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenarana). Dan sesungguhnya setiap aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap mengingkari dan menyombongkan diri dengan sangat” . (QS. Nuh [71] : 5-7)

Dalam dakwah Nabi Hud as ketika kaumnya berkata,

قَالُوا يَا هُودُ مَا جِئْتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَن قَوْلِكَ وَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

“Hai Hud, kamu tidak mendatangkan kepad kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali akan meninggalkan sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kami”. (QS. Hud [11] : 53)

Juga dapat kita lihat dalam dakwah Nabi Muhammad saw ketika Allah menjelaskan sikap kaumnya kepadanya,

حم
تَنزِيلٌ مِّنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ
وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِن بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ

“Haa Miim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, sebagai berita gembira da peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya), maka mereka tidak mau mendengarkan. Mereka berkata : Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamuj seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan diantara kami dan kamu ada dinding maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja pula”. (QS. Fushilat [41] : 1-5)

Oleh sebab itu, Allah bersifat kepada Rasul-Nya,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janglanlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka”. (QS. An–Nahl [16] : 127)

Juru dakwah yang telah mencontohkan bentuk ini secara mengagumkan adalah Nuh as, ketika ia menghadapi keberpalingan dan rintangan yang tidak pernah lagi dihadapi oleh juru dakwah sesudahnya.

Dalam bentuk gangguan manusia dengan ucapan atau perbuatan. Tidak ada sesuatu yang paling menyedihkan sesorang da’i yang mukhlis, yang bersih dari hawa nafsu dan sangat mencintai kebaikan bagi manusia, daripada sikap manusia yang menyambut nasihatnya dengan tuduhan-tuduhan palsu, yang menolak seruannya ke jalan Allah dengan kekerasan, yang membalas kebaikannya dengan kejahatan, yang menuduh aktivitasnya yang konstruktif dengan merongrong keamanan negara.

Kadang-kadang persoalannya tidak h anya sampai di sini. Para thagut itu bahkan seringkali merampas hartanya, menyiksa tubuhnya, memasung kebebasannya, menodai kehormatannya, menghabisi nyawanya, ata mengusirnya dari negara kelahirannya.

Inilah yang pernah disumpahkan al-Qur’an tentang kepastian terjadinyanya terhadap da’I Allah. Ketika Kitabullah menjelaskan hal itu kepada kaum Mukminin agar mempersiapkan dirinya dengan senjat sabar,

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji menyangkut hartamu dan dirimu, dan juga kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang di beri Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang hygn mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang m enyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu urusan yang patu diutamakan”. (QS. Ali Imran [3] : 186)

Dari sini kemudian Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar atas gangguan kaumnya.
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik”. (QS. Al-Muzammil [73] : 10)

Semua nabi telah mencontohkan secara baik bentuk sabar ini. Karena itu, Allah memberikan pujian dan kemuliaan bagi mereka yang bersabar di jalan dakwah dan jalan-Nya. Wallahu’alam.

PENDAKI 1 SKI FISIP UNAIR

Para peserta saat olahraga pagi
SKI FISIP UNAIR beberapa waktu yang lalu menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Dakwah dan Kepemimpinan Islam Tingkat 1 (PENDAKI 1). Kegiatan yang diselenggrakan di HANUDNAS Kenjeran Surabaya ini berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 11, 12 dan 13 September 2011. Meskipun dilaksanankan setelah UTS, semangat Panitia dan Peserta ternyata tidak pudar begitu saja.


     Berangkat dari Masjid Nuruzzaman pukul 18.30, acara diawali dengan Pembukaan secara resmi oleh Ketua SKI FISIP UNAIR Yanuar Dwi Kurniawan. Dalam sambutannya Yanuar berharap melalui PENDAKI 1 ini peserta khususnya mahasiswa baru angkatan 2011 dapat lebih mengenal seluk beluk SKI FISIP dan bagaimana dakwah yang harus dilakukan dilingkungan FISIP yang penuh warna.
     Selama kegiatan berlangsung, ada banyak materi-materi menarik yang disampaikan oleh pembicara yang luar biasa. Ada materi mengenai urgensi dakwah, syahadatain, manajemen syuro, dll. Tak ketinggalan outbound yang menjadi acara wajib disetiap kegiatan SKI FISIP.   Kita semua berharap, puluhan peserta yang kemarin telah mengikuti PENDAKI 1 dan telah berikrar, kedepannya dapat tetap menjaga komitmennya untuk berada di jalan dakwah. Karena pada dasarnya kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk saling menyeru dalam kebaikan. Dan di SKI FISIP, konsep saling menyeru itu di susun secara sistematis dalam bingkai organisasi yang dikenal sebagai SKI FISIP SAE (smart, aktif, enerjik) Allahu Akbar!.(red)

Berikut ini beberapa foto yang sempat Infokom dokumentasikan selama acara berlangsung.



 

SKI BARU, SEMANGAT BARU!

Pagelaran MUKTAMAR SKI 2011 lalu telah menjadi satu gong tanda berakhirnya masa jabatan pengurus Sie Kerohanian Islam FISIP UNAIR periode 2011. Dengan berakhirnya kepengurusan tersebut, sebuah langkah baru kemudian harus segera ditentukan untuk menyambut babak baru 'perjuangan' dakwah di bumi FISIP. 
     INFONEWS (20-03-2012) Sebagai sebuah lembaga dakwah fakultas, SKI FISIP memiliki peran strategis dalam mengemban misi dakwah islami, baik bagi seluruh insan akademisi di FISIP, maupun bagi kader-kader SKI sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa jalan dakwah memang bukanlah semudah yang dibayangkan. Bukan karena sulitnya medan dakwah, terutama di Fakultas yang konon menjunjung 'pliralisme', namun hal yang lebih sulit dari sekedar menaklukkan medan dakwah melainkan begaimana segenap pengurus dan kader-kader baru SKI dapat tetap istiqomah dalam kereta dakwahnya. 
       Perjuangan yang dijamin sulit ini bukan lantas membuat para kader SKI harus merasa ciut nyali dan lebih memilih untuk mundur. Justru yang harus dilakukan adalah menjadikan jalan dakwah yang sulit itu sebagai ladang pahala. Dari sisi inilah kemudian muncul sebuah konsep yang dinamakan ikhlas dalam berdakwah. Berangkat dengan kepangurusan yang baru, SKI FISIP SAE tentunya memiliki semangat baru yang wajib untuk diimplementasikan melalui semangat berdakwah. SKI FISIP 2012 akan mampu membuktikan dirinya sebagai a leading faculty dakwah organization, jika seluruh kader dapat menyinergiskan dirinya dengan amalnya, sinergis dengan ilmunya, dan sinergis dengan lingkungannya, dimana dalam hal ini FISIP adalah tempatnya. Oleh karena itu, SKI FISIP 2012 Insyaalah akan benar-benar menjadi sebuah lembaga dakwah yang unggul dan mampu membangkitkan peradaban ISLAM, khususnya di FISIP. (akp)










.