Kamis, 18 Desember 2014

puisi : Tema Hari IBU



KETEGARAN SEORANG IBU
-Nurma-

Ku belai tanganmu,,,,
Tak selembut dulu lagi, begitu kasar dan kering
Kuku jarimu kini terkelupas sedikit demi  sedikit
Terbayang di benakku, lelahnya dirimu banting tulang mencari nafkah

Namun.........

Tak pernah terdengar sedikitpun keluhan yang meluncur dari bibirmu
Tak pernah sekalipun kau meminta imbalan kepada ku
Tak pernah jua kau menunjukkan rasa sakit yang menggerogoti tubuhmu
Dan tak pernah kau menunjukku sebutir pun bulir-bulir halus dari matamu yang teduh

Kau selalu tegar di depan ku, walaupun kadang-kadang kau menangis dalam tidurmu
Kau selalu menyemangatiku saat ku terjatuh
Kau selalu memenuhi semua yang ku inginkan

Terimakasih Ibu,,
Pengorbananmu tak akan pernah ku sia-siakan
Dan terimakasih untuk kasih sayangmu yang abadi ini

puisi : WAJAH



Wajah
-Moh. Asaddin Nur-

Wajah ini biru
Membisu kaku
Bersimpuh setan kecil bergemuruh

Wajah ini hitam
Muram masam
Dijejali maling-maling egois, katalis kelam

Wajah-wajah itukah yang kita suguhkan
Pada jamuan malam para pahlawan
Mereka tidak apa-apa
Mereka hanya memperjuangkan kemerdekaan
Mereka tidak peduli kemenangan
Mereka hanya menegakkan empat pilar Negara

Dan wajah-wajah muda pun terus berubah
Sadar bahwa bangsa membutuhkan semangat mereka
semangat pembaruan

Hingga wajah ini merah
Berdarah-darah menggugah amarah
Menyaksikan serigala-serigala pongah tak tahu arah

Hingga wajah ini putih langsat
Penuh semangat, bertekad kuat,
memberantas maksiat

Wajah ini berhiaskan warna keberagaman
Namun wajah tetaplah wajah
Wajah persatuan

puisi : MAKRIFAT



MAKRIFAT
Oleh : Moh.AsaddinNur

Bersimpuh raga dalamkeheningan
Berlinangjiwadalamkehampaan
Refleksi yang hilang datang tertampakkan

Anginterpaku
Rembulantertunduk
Nafaspuntertahan

Pemurnianhati yang haqiqi
PenyatuandiridenganIlahi
Memancarpencarmenembuscakrawala

Bersedia ...
Siapmenyambutsurga
Dari pembuatjanji yang takkandusta

Kamis, 11 Juli 2013

Membaca Al-Qur'an dan Lainnya Saat Haid


Saat haid shalat yg ditinggal karena Allah adalah pahala | larangan-larangan yang ditaati karena Allah berbuah surga

Jangan dikira tak dapat lakukan shalat saat haid sebagai pengurang kebaikan | bila itu diperbuat karena Allah itu sebenar kebaikan

Lagipula, tidak semua ibadah terlarang dilakukan saat haid | masih banyak sekali ibadah yang tetap bisa dibuat saat haid

Membaca Al-Qur'an, dzikrullah, membaca buku Islam, berdoa, ikut kajian Islam dan sebagainya, takkan pernah habis kebaikan bagimu :)

Membaca Al-Qur'an? bukankah tidak boleh dalam keadaan tak suci? | begitulah pemahaman umum, mari kaji dalil kebolehannya

Pertama-tama, ini adl dalil yg melandasinya, "tidak menyentuhnya (Al-Qur'an) kecuali orang-orang yg disucikan" (QS 56:79)

Juga hadits shahih dari Nabi Muhammad saw, "tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci” (HR Al Hakim)

Maka kedua dalil diatas cukup menjadi alasan | tidak bolehnya wanita haid (tak suci) atau lelaki junub (tak suci) menyentuh Al-Qur'an

Maka mushaf Al-Qur'an (lembaran-lembaran Al-Qur'an), termasuk sampul dan keseluruhan buku, harus disentuh dlm keadaan suci

Namun dalil diatas membahas tentang menyentuh Al-Qur'an | bukan hukum membaca Al-Qur'an | mari kita simak dalil lain

Satu waktu Rasulullah dan Aisyah sedang ingin melaksanakan umrah | namun Aisyah dapatkan haid pada masa itu

"Lalu berhajilah, lakukan apa yg dilakukan oleh orang yg berhaji kecuali thawaf dan shalat” (HR Bukhari Muslim)

Bila membaca Al-Qur'an adl termasuk amalan utama bagi yg berhaji | maka ini menunjukkan bolehnya wanita haid membaca Al-Qur'an

Ibnu Taimiyah dalam Majmu Al-Fatawa juga menyetujui pendapat demikian | bahwa Muslimah boleh membaca Al-Qur'an saat haid

Boleh membaca Al-Qur'an saat haid | hanya saja bagi wnaita haid, dilarang mereka untuk menyentuh Al-Qur'an ketika membaca Al-Qur'an

Maka silahkan membaca Al-Qur'an, dan gunakan sarung tangan atau kain untuk memegang mushaf Al-Qur'an dan membalikkan halamannya

Kesimpulannya diperbolehkan membaca Al Qur’an bagi wanita haid dan nifas, asalkan tidak menyentuh mushaf Al Qur’an

Inilah pendapat Imam Malik, Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal, juga Imam Bukhari, Ibnu Hazm, dan Ibnu Taimiyah

Mengenai membaca Al-Qur'an dalam keadaan hadats kecil, maka itu boleh saja, namun lebih utama memiliki wudhu

"Kaum muslim bersepakat bolehnya membaca Al-Quran untuk org yg hadats kecil, lebih utama hendaknya dia berwudhu" (Imam Nawawi)


Re-post : Ustadz Felix Siauw twit, @felixsiauw

Semoga bermanfaat.. ^^v








Kamis, 23 Mei 2013

Pentingkah Menulis?


Hal-hal yang membosankan bagi sebagian pelajar ataupun mahasiswa di Indonesia adalah menulis. Buktinya banyak pelajar bahkan mahasiswa yang tidak memiliki minat menulis. Anda tahu apa itu menulis? Menulis adalah menuangkan ide yang ada didalam pikiran kita kedalam sebuah rangkaian kata, ya betul. Tapi jangan di artikan bahwa menulis itu hanya sebatas menorehkan tinta yang menghasilkan jajaran huruf atau angka, didalam sebuah tulisan harus ada ide yang terkandung. Dalam artian banyak pelajar atau mahasiswa yang tidak bisa menulis itu bukan berarti tidak bisa menulis angka 1, 2, 3 atau serangkaian abjad a, b, c. tetapi dalam perspektif ini bukan menulis yang sesederhana itu, menyalin tulisan dari papan tulis ketika di kelas atau dari dikte guru atau dosen, melainkan tulisan yang mempunyai ide tau tujuan yang jelas.
            Siswa yang sering menulis di papan tulis belum tentu bisa membuat sebuah tulisan hasil karyanya sendiri karena ia menulis apa yang sudah ditulis pada buku yang ia lihat dan tanpa ada pengaruh ide dari pikirannya. Seorang yang sering menulis karya ilmiah maupun non-ilmiah inilah orang yang bisa disebut bisa menulis karena didalam sebuah karya ilmiah ataupun non-ilmiah tersebut mengandung tujuan dan ide atau gagasan yang jelas. Tujuan disini bisa dalam bentuk opini untuk mengkritisi kebijakan suatu lembaga, men-share-kan tips atau trik yang baru ditemukan ataukah sebuah ide dalam menyelesaikan problem negara dan bangsa.
            Didalam problem negara yaitu distributor, misal, dalam pemerataan pembangunan yang ada di kota dan di daerah yang kurang adil maka bisa dikritik lewat tulisan dalam problem bangsa. Atau pun dalam problem bangsa yaitu pluralism, misal, masih ada pertikaian antar agama, tulisan bisa berperan penting dalam menambah wawasan antar agama agar memahami kepentingan agama masing-masing. Mungkin saja mereka yang bertikai karena salah paham yang diakibatkan kurangnya pengetahuan akan kepentingan agama  lain sehingga mereka melakukan pertikaian. Di sini perlu ada wawasan yang luas yang diberikan kepada mereka lewat tulisan pentingnya memiliki sifat plural untuk kehidupan yang damai.
Dalam konteks ini menulis memang memiliki peran yang besar dalam kehidupan sehari-hari sehingga menulis itu sangat penting, salah satunya dalam mempengaruhi kebijakan. Selain menulis itu penting, timbul pertanyaan alasan kenapa menulis? Ada tiga alasan menulis menurut Jusman Dalle pada kulaih umum di acara RAPIMNAS FSLDK 1 di FK Uniar. Pertama, alasan Ideologi, alasan ini adalah bahwa tulisan sangat efektif untuk transportasi peradaban, bisa disimpulkan dengan menulis maka suatu budaya akan dikenal oleh beberapa generasi karena diabadikan melalui tulisan, budaya bisa bertahan dan dipelajari dengan adanya tulisan sebuah budaya yang ada didalam buku. Kedua, alasana ekonomi, menulis selain mempunyai tujuan memperngaruhi suatu kebijakan juga secara tidak langsung berkitan dengan ekonomi, banyak penulis yang membuat buku yang  bisa menghasilkan pendapatan dari hasil penjualan buku tersebut. Ketiga, alasan sosial, alasan ini adalah alasan yang tidak disadari dirasakan oleh seorang penulis, misal, karena si A seorang penulis maka prestasinya dalam menulis dihargai oleh pembaca maupun orang terdekatnya.
Sebagaimana tulisan bisa mempengaruhi kebijakan atau mengubah stigma masyarakat tentang suatu peristiwa atau suatu image objek tertentu, maka banyak yang menghargai bahkan takut terhadap ide yang ada didalam tulisan. Napoleon Bonaparte pernah berkata, “saya lebih takut kepada pena seorang penulis, ketimbang seribu bedil tentara musuh”. Karena itulah tulisan mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan. Coba bayangkan jikalau semua orang didunia berhenti menulis selama 10 tahun saja, bagaimana yang akan terjadi didunia ini. Semua peristiwa tidak akan terekam dalam sebuah tulisan yang merupakan transportasi budaya dan transportasi peristiwa sejarah.
Apalah arti sebuah ide kalau tidak ada tindakan atau tidak dituangkan dalam sebuah tulisan. Maka para aktivis pencetak sejarah abadikanlah sejarah teman semua ke dalam sebuah tulisan dan abadikan pula setiap peristiwa saat ini yang akan menjadi sejarah di masa depan.


                                                                                                                                     Oleh : Ijud

Hukum Menyanyi dan Musik dalam Islam

      Tidak dapat dipungkiri, musik sangat dekat dengan kehidupan kita, apalagi kita sebagai anak muda. Hampir semua remaja menyukai musik, tidak terkecuali kita. Namun, kita sering mendengar orang bilang "musik itu haram" atau "nyanyi itu haram". Lho, terus gimana, dong? Kita kan suka banget dengerin musik, tapi kita juga nggak mau melanggar larangan agama. Nah, bagaimana sebenarnya hukum musik dan bernyanyi dalam Islam?

1. Melantunkan Nyanyian (al-Ghina’ / at-Taghanni)

      Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menyanyi (al-ghina’ / at-taghanni). Sebagian mengharamkan nyanyian dan sebagian lainnya menghalalkan. Masing-masing mempunyai dalilnya sendiri-sendiri. Berikut sebagian dalil masing-masing, seperti diuraikan oleh al-Ustadz Muhammad al-Marzuq Bin Abdul Mu’min al-Fallaty mengemukakan dalam kitabnya Saiful Qathi’i lin-Niza’ bab Fi Bayani Tahrimi al-Ghina’ wa Tahrim Istima’ Lahu (Musik. http://www.ashifnet.tripod.com),/ juga oleh Dr. Abdurrahman al-Baghdadi dalam bukunya Seni dalam Pandangan Islam (hal. 27-38), dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki dalam Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas (hal. 97-101):

A. Dalil-Dalil Yang Mengharamkan Nyanyian:
 a. Berdasarkan firman Allah: “Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (Qs. Luqmân [31]: 6) Beberapa ulama menafsirkan maksud lahwal hadits ini sebagai nyanyian, musik atau lagu, di antaranya al-Hasan, al-Qurthubi, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Ayat-ayat lain yang dijadikan dalil pengharaman nyanyian adalah Qs. an-Najm [53]: 59-61; dan Qs. al-Isrâ’ [17]: 64 (Abi Bakar Jabir al-Jazairi, Haramkah Musik Dan Lagu? (al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram), hal. 20-22). 
b. Hadits Abu Malik Al-Asy’ari ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik (al-ma’azif).” [HR. Bukhari, Shahih Bukhari, hadits no. 5590]. 
c. Hadits Aisyah ra Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan nyanyian-nyanyian (qoynah) dan menjualbelikannya, mempelajarinya atau mendengar-kannya.” Kemudian beliau membacakan ayat di atas. [HR. Ibnu Abi Dunya dan Ibnu Mardawaih]. 
d. Hadits dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda: “Nyanyian itu bisa menimbulkan nifaq, seperti air menumbuhkan kembang.” [HR. Ibnu Abi Dunya dan al-Baihaqi, hadits mauquf]. 
e. Hadits dari Abu Umamah ra, Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang bernyanyi, maka Allah SWT mengutus padanya dua syaitan yang menunggangi dua pundaknya dan memukul-mukul tumitnya pada dada si penyanyi sampai dia berhenti.” [HR. Ibnu Abid Dunya.]. 
f. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Auf ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku dilarang dari suara yang hina dan sesat, yaitu: 1. Alunan suara nyanyian yang melalaikan dengan iringan seruling syaitan (mazamirus syaithan). 2. Ratapan seorang ketika mendapat musibah sehingga menampar wajahnya sendiri dan merobek pakaiannya dengan ratapan syetan (rannatus syaithan).” 

B. Dalil-Dalil Yang Menghalalkan Nyanyian: 
a. Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87). 
b. Hadits dari Nafi’ ra, katanya: Aku berjalan bersama Abdullah Bin Umar ra. Dalam perjalanan kami mendengar suara seruling, maka dia menutup telinganya dengan telunjuknya terus berjalan sambil berkata; “Hai Nafi, masihkah kau dengar suara itu?” sampai aku menjawab tidak. Kemudian dia lepaskan jarinya dan berkata; “Demikianlah yang dilakukan Rasulullah Saw.” [HR. Ibnu Abid Dunya dan al-Baihaqi]. 
c. Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra berkata: Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi Saw yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi Saw bersabda: “Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” [HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah ra]. 
d. Dari Aisyah ra; dia pernah menikahkan seorang wanita kepada pemuda Anshar. Tiba-tiba Rasulullah Saw bersabda: “Mengapa tidak kalian adakan permainan karena orang Anshar itu suka pada permainan.” [HR. Bukhari]. 
e. Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Umar melewati shahabat Hasan sedangkan ia sedang melantunkan syi’ir di masjid. Maka Umar memicingkan mata tidak setuju. Lalu Hasan berkata: “Aku pernah bersyi’ir di masjid dan di sana ada orang yang lebih mulia daripadamu (yaitu Rasulullah Saw)” [HR. Muslim, juz II, hal. 485]. 

Hukum Mendengarkan Nyanyian

a. Hukum Mendengarkan Nyanyian (Sama’ al-Ghina’)
      Hukum menyanyi tidak dapat disamakan dengan hukum mendengarkan nyanyian. Sebab memang ada perbedaan antara melantunkan lagu (at-taghanni bi al-ghina’) dengan mendengar lagu (sama’ al-ghina’). Hukum melantunkan lagu termasuk dalam hukum af-‘âl (perbuatan) yang hukum asalnya wajib terikat dengan hukum syara’ (at-taqayyud bi al-hukm asy-syar’i). Sedangkan mendengarkan lagu, termasuk dalam hukum af-‘âl jibiliyah, yang hukum asalnya mubah. Af-‘âl jibiliyyah adalah perbuatan-perbuatan alamiah manusia, yang muncul dari penciptaan manusia, seperti berjalan, duduk, tidur, menggerakkan kaki, menggerakkan tangan, makan, minum, melihat, membaui, mendengar, dan sebagainya. Perbuatan-perbuatan yang tergolong kepada af-‘âl jibiliyyah ini hukum asalnya adalah mubah, kecuali adfa dalil yang mengharamkan. Kaidah syariah menetapkan: Al-ashlu fi al-af’âl al-jibiliyah al-ibahah “Hukum asal perbuatan-perbuatan jibiliyyah, adalah mubah.” (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 96). Maka dari itu, melihat —sebagai perbuatan jibiliyyah— hukum asalnya adalah boleh (ibahah). Jadi, melihat apa saja adalah boleh, apakah melihat gunung, pohon, batu, kerikil, mobil, dan seterusnya. Masing-masing ini tidak memerlukan dalil khusus untuk membolehkannya, sebab melihat itu sendiri adalah boleh menurut syara’. Hanya saja jika ada dalil khusus yang mengaramkan melihat sesuatu, misalnya melihat aurat wanita, maka pada saat itu melihat hukumnya haram. 
      Demikian pula mendengar. Perbuatan mendengar termasuk perbuatan jibiliyyah, sehingga hukum asalnya adalah boleh. Mendengar suara apa saja boleh, apakah suara gemericik air, suara halilintar, suara binatang, juga suara manusia termasuk di dalamnya nyanyian. Hanya saja di sini ada sedikit catatan. Jika suara yang terdengar berisi suatu aktivitas maksiat, maka meskipun mendengarnya mubah, ada kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, dan tidak boleh mendiamkannya. Misalnya kita mendengar seseorang mengatakan, “Saya akan membunuh si Fulan!” Membunuh memang haram. Tapi perbuatan kita mendengar perkataan orang tadi, sebenarnya adalah mubah, tidak haram. Hanya saja kita berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar terhadap orang tersebut dan kita diharamkan mendiamkannya. 
     Demikian pula hukum mendengar nyanyian. Sekedar mendengarkan nyanyian adalah mubah, bagaimanapun juga nyanyian itu. Sebab mendengar adalah perbuatan jibiliyyah yang hukum asalnya mubah. Tetapi jika isi atau syair nyanyian itu mengandung kemungkaran, kita tidak dibolehkan berdiam diri dan wajib melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nabi Saw bersabda: “Siapa saja di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah kemungkaran itu dengan tangannya (kekuatan fisik). Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisannya (ucapannya). Jika tidak mampu, ubahlah dengan hatinya (dengan tidak meridhai). Dan itu adalah selemah-lemah iman.” [HR. Imam Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Majah]. 

b. Hukum Mendengar Nyanyian Secara Interaktif (Istima’ al-Ghina’)
      Penjelasan sebelumnya adalah hukum mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’). Ada hukum lain, yaitu mendengarkan nyanyian secara interaktif (istima’ li al-ghina’). Dalam bahasa Arab, ada perbedaan antara mendengar (as-sama’) dengan mendengar-interaktif (istima’). Mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah sekedar mendengar, tanpa ada interaksi misalnya ikut hadir dalam proses menyanyinya seseorang. Sedangkan istima’ li al-ghina’, adalah lebih dari sekedar mendengar, yaitu ada tambahannya berupa interaksi dengan penyanyi, yaitu duduk bersama sang penyanyi, berada dalam satu forum, berdiam di sana, dan kemudian mendengarkan nyanyian sang penyanyi (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 104). 
      Jadi kalau mendengar nyanyian (sama’ al-ghina’) adalah perbuatan jibiliyyah, sedang mendengar-menghadiri nyanyian (istima’ al-ghina’) bukan perbuatan jibiliyyah. Jika seseorang mendengarkan nyanyian secara interaktif, dan nyanyian serta kondisi yang melingkupinya sama sekali tidak mengandung unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka orang itu boleh mendengarkan nyanyian tersebut. Adapun jika seseorang mendengar nyanyian secara interaktif (istima’ al-ghina’) dan nyanyiannya adalah nyanyian haram, atau kondisi yang melingkupinya haram (misalnya ada ikhthilat) karena disertai dengan kemaksiatan atau kemunkaran, maka aktivitasnya itu adalah haram (Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki, Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 104). Allah SWT berfirman: “Maka janganlah kamu duduk bersama mereka hingga mereka beralih pada pembicaraan yang lainnya.” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 140). “…Maka janganlah kamu duduk bersama kaum yang zhalim setelah (mereka) diberi peringatan.” (Qs. al-An’âm [6]: 68).  

2. Hukum Memainkan Alat Musik

      Bagaimanakah hukum memainkan alat musik, seperti gitar, piano, rebana, dan sebagainya? Jawabannya adalah, secara tekstual (nash), ada satu jenis alat musik yang dengan jelas diterangkan kebolehannya dalam hadits, yaitu ad-duff atau al-ghirbal, atau rebana. Sabda Nabi Saw: “Umumkanlah pernikahan dan tabuhkanlah untuknya rebana (ghirbal).” [HR. Ibnu Majah] ( Abi Bakar Jabir al-Jazairi, Haramkah Musik Dan Lagu? (Al-I’lam bi Anna al-‘Azif wa al-Ghina Haram), hal. 52; Toha Yahya Omar, Hukum Seni Musik, Seni Suara, Dan Seni Tari Dalam Islam, hal. 24). Adapun selain alat musik ad-duff / al-ghirbal, maka ulama berbeda pendapat. Ada yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan. Dalam hal ini penulis cenderung kepada pendapat Syaikh Nashiruddin al-Albani. Menurut Syaikh Nashiruddin al-Albani hadits-hadits yang mengharamkan alat-alat musik seperti seruling, gendang, dan sejenisnya, seluruhnya dha’if. Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla, juz VI, hal. 59 mengatakan: “Jika belum ada perincian dari Allah SWT maupun Rasul-Nya tentang sesuatu yang kita perbincangkan di sini [dalam hal ini adalah nyanyian dan memainkan alat-alat musik], maka telah terbukti bahwa ia halal atau boleh secara mutlak.” (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 57).  
      Kesimpulannya, memainkan alat musik apa pun, adalah mubah. Inilah hukum dasarnya. Kecuali jika ada dalil tertentu yang mengharamkan, maka pada saat itu suatu alat musik tertentu adalah haram. Jika tidak ada dalil yang mengharamkan, kembali kepada hukum asalnya, yaitu mubah. 

3. Hukum Mendengarkan Musik

a. Mendengarkan Musik Secara Langsung (Live)
      Pada dasarnya mendengarkan musik (atau dapat juga digabung dengan vokal) secara langsung, seperti show di panggung pertunjukkan, di GOR, lapangan, dan semisalnya, hukumnya sama dengan mendengarkan nyanyian secara interaktif. Patokannya adalah tergantung ada tidaknya unsur kemaksiatan atau kemungkaran dalam pelaksanaannya. Jika terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, misalnya syairnya tidak Islami, atau terjadi ikhthilat, atau terjadi penampakan aurat, maka hukumnya haram. Jika tidak terdapat unsur kemaksiatan atau kemungkaran, maka hukumnya adalah mubah (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 74). 

b. Mendengarkan Musik Di Radio, TV, Dan Semisalnya
      Menurut Dr. Abdurrahman al-Baghdadi (Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 74-76) dan Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki (Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas, hal. 107-108) hukum mendengarkan musik melalui media TV, radio, dan semisalnya, tidak sama dengan hukum mendengarkan musik secara langsung sepereti show di panggung pertunjukkan. Hukum asalnya adalah mubah (ibahah), bagaimana pun juga bentuk musik atau nyanyian yang ada dalam media tersebut. Kemubahannya didasarkan pada hukum asal pemanfaatan benda (asy-yâ’) —dalam hal ini TV, kaset, VCD, dan semisalnya— yaitu mubah. 
      Kaidah syar’iyah mengenai hukum asal pemanfaatan benda menyebutkan: Al-ashlu fi al-asy-yâ’ al-ibahah ma lam yarid dalilu at-tahrim “Hukum asal benda-benda, adalah boleh, selama tidak terdapat dalil yang mengharamkannya.” (Dr. Abdurrahman al-Baghdadi, Seni Dalam Pandangan Islam, hal. 76). Namun demikian, meskipun asalnya adalah mubah, hukumnya dapat menjadi haram, bila diduga kuat akan mengantarkan pada perbuatan haram, atau mengakibatkan dilalaikannya kewajiban. Kaidah syar’iyah menetapkan: Al-wasilah ila al-haram haram “Segala sesuatu perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram juga.” (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustur, hal. 86). 

4. Pedoman Umum Nyanyian Dan Musik Islami

      Setelah berbagai hukum dijabarkan seperti di atas, maka didapat suatu pedoman umum tentang nyanyian dan musik yang Islami, dalam bentuk yang lebih rinci dan operasional. Pedoman ini disusun atas di prinsip dasar, bahwa nyanyian dan musik Islami wajib bersih dari segala unsur kemaksiatan atau kemungkaran, seperti diuraikan di atas. Setidaknya ada 4 (empat) komponen pokok yang harus diislamisasikan, hingga tersuguh sebuah nyanyian atau alunan musik yang indah (Islami): 

1). Musisi/Penyanyi
a) Bertujuan menghibur dan menggairahkan perbuatan baik (khayr / ma’ruf) dan menghapus kemaksiatan, kemungkaran, dan kezhaliman. Misalnya, mengajak jihad fi sabilillah, mengajak mendirikan masyarakat Islam. Atau menentang judi, menentang pergaulan bebas, menentang pacaran, menentang kezaliman penguasa sekuler. 
b) Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar (meniru orang kafir dalam masalah yang bersangkutpaut dengan sifat khas kekufurannya) baik dalam penampilan maupun dalam berpakaian. Misalnya, mengenakan kalung salib, berpakaian ala pastor atau bhiksu, dan sejenisnya. 
c) Tidak menyalahi ketentuan syara’, seperti wanita tampil menampakkan aurat, berpakaian ketat dan transparan, bergoyang pinggul, dan sejenisnya. Atau yang laki-laki memakai pakaian dan/atau asesoris wanita, atau sebaliknya, yang wanita memakai pakaian dan/atau asesoris pria. Ini semua haram. 

2). Instrumen/Alat Musik
      Dengan memperhatikan instrumen atau alat musik yang digunakan para shahabat, maka di antara yang mendekati kesamaan bentuk dan sifat adalah:
a) Memberi kemaslahatan bagi pemain ataupun pendengarnya. Salah satu bentuknya seperti genderang untuk membangkitkan semangat.
b) Tidak ada unsur tasyabuh bil-kuffar dengan alat musik atau bunyi instrumen yang biasa dijadikan sarana upacara non muslim. Dalam hal ini, instrumen yang digunakan sangat relatif tergantung maksud si pemakainya. Dan perlu diingat, hukum asal alat musik adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

3). Sya’ir

Berisi:
  • Amar ma’ruf (menuntut keadilan, perdamaian, kebenaran dan sebagainya) dan nahi munkar (menghujat kedzaliman, memberantas kemaksiatan, dan sebagainya) 
  • Memuji Allah, Rasul-Nya dan ciptaan-Nya. 
  • Berisi ‘ibrah dan menggugah kesadaran manusia.
  • Tidak menggunakan ungkapan yang dicela oleh agama.
  • Hal-hal mubah yang tidak bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. 
Tidak berisi:
  • Amar munkar (mengajak pacaran, dan sebagainya) dan nahi ma’ruf (mencela jilbab,dsb). 
  • Mencela Allah, Rasul-Nya, al-Qur’an. 
  • Berisi “bius” yang menghilangkan kesadaran manusia sebagai hamba Allah. 
  • Ungkapan yang tercela menurut syara’ (porno, tak tahu malu, dan sebagainya).
  • Segala hal yang bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. 
4). Waktu Dan Tempat
  • Waktu mendapatkan kebahagiaan (waqtu sururin) seperti pesta pernikahan, hari raya, kedatangan saudara, mendapatkan rizki, dan sebagainya. 
  • Tidak melalaikan atau menyita waktu beribadah (yang wajib). 
  • Tidak mengganggu orang lain (baik dari segi waktu maupun tempat). 
  • Pria dan wanita wajib ditempatkan terpisah (infishal) tidak boleh ikhtilat (campur baur). 
Demikian, semoga bermanfaat...

Re-post dari konsultasi.wordpress.com

.